Muhasabah Harakiyah Majelis Mujahidin

Eksistensi Majelis Mujahidin, suka atau tidak suka, telah merubah orientasi gerakan Islam di Indonesia. Sebelumnya, belum ada gerakan Islam yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di lembaga negara. Kecuali, perjuangan partai Masyumi di masa orde lama.

Oleh karena itu, para mujahid yang tergabung dalam institusi Majelis Mujahidin harus memiliki mentalitas prima: luas ilmunya perkasa fisiknya. Sebuah gerakan Islam yang dipimpin oleh mereka yang tidak mengerti al-Qur’an dan Sunnah, tidak menguasai ilmu keislaman, pasti akan berantakan. Nawaitunya, memperjuangkan agama Allah, dan berharap menjadi “fiatin qalilatin biiznillah” yang siap memikul amanah tatbiqus syariah.

Problem yang sangat dirasakan dunia Islam hari ini, lemahnya semangat jihad. Negara negara mayoritas penduduk Islam, pengecut. Berlindung di bawah ketiak negara kafir. Padahal, Cina yang komunis saja tidak pernah minta negerinya dijaga negara lain. Tapi coba lihat Saudi Arabia, dilindungi Amerika. Maka diperlukan kecermatan intelektual untuk membaca peta dunia, siapa musuh Islam. Jangan biarkan kondisi negatif “orang Hb kafir yang berbuat jahat Islam yang disalahkan”.

Majelis Mujahidin bukan institusi tempat kumpul-kumpul, reuni senang-senang. Tapi tugas pentingnya adalah, bagaimana mendidik masyarakat supaya mencintai Syariat Islam. Sebagai senjata utama menanggulangi kerusakan di masyarakat dan pemerintah. Jangan lagi terulang situasi seperti sekarang. Negaranya berpenduduk mayoritas muslim, tapi presidennya tidak bisa shalat, tidak becus baca al-Qur’an sehingga puncaknya bersikap Islamophobia. Buktinya, segala kemungkaran bebas berlangsung. Ideologi apapun bebas dipropagandakan. Satu-satunya yang tidak dibebaskan berlaku hanya Syariat Islam. Memusuhi Islam dianggap toleransi, sedang melawan mereka yang anti syariat Islam dianggap persekusi.

Perubahan pemimpin nasional sangat mendesak. Pertanyaannya, adakah negarawan yang jadi pemimpin baru, yang dapat menampilkan akhlak pribadi dan keluarganya sesuai Islam? Bila menjadi pemimpin, dia tidak akan mendahulukan kepentingan pribadi dan konco-konconya di atas kepentingan rakyat.

(Transkrip orasi Amir Majelis Mujahidin, Al-Ustadz Muhammad Thalib, di hadapan peserta Mudzakarah MM, 12-13 Mei 2018, di Markaz, Jogjakarta).

Jogjakarta, 14/5/2018

Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.