27.5 C
Jakarta
Sabtu, 24 Februari 2024

Imam Ahmad bin Hanbal, Ujian Berat dari Empat Rezim

Sudah menjadi sunnatullah bagi siapapun yang menempuh jalan dakwah dan yang memilih hidup sebagai pewaris perjuangan para Nabi, bahwa mereka akan berhadapan dengan terjalnya ujian dan beratnya badai fitnah yang menghantam.

Tak terkecuali dengan yang dialami oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Sejarah kehidupan beliau tercatat penuh dengan ujian yang sangat berat, yang kiranya bahkan, tak sembarang ulama mampu memikul atau menghadapi seperti apa yang pernah beliau hadapi.

قد تداول الإمام أحمد أربع خلفاء, بعضهم بالتهديد والوعيد وبعضهم بالضرب والحبس وبعضهم بالنفي والتشريد وبعضهم بالترغيب في الرياسة و المال, ولا يزداد الإمام الا ثقة و إيمانا ويقينا

Imam Ahmad telah melewati pergantian empat orang khalifah, di antara mereka ada yang melakukan intimidasi dan ancaman, ada yang mencambuk dan memenjara, ada yang menolak dan mengusirnya, ada pula yang merayunya dengan jabatan. Namun, tidaklah menambah apa-apa bagi Imam Ahmad kecuali kepercayaan, keimanan, dan keyakinan.”[1]

Imam Ahmad hidup di era Kekhalifahan Abasiyah, tepatnya di masa pemerintahan al-Makmun, al-Mu’tashim, al-Watsiq dan al-Mutawakil. Keempat khalifah ini semuanya menjadi ujian berat bagi Sang Imam.

Tiga darinya menekan dan menyiksanya, adapun yang satunya sebaliknya, karena cinta dan kagumnya kepada Sang Imam, berusaha membujuk dan menawari beliau dunia dengan segala kesenangannya.

Namun karena keteguhan iman dan kesabaran Imam Ahmad menjadikan beliau bisa melalui semua ujian itu. Tak sedikitpun beliau goyah apalagi sampai menyerah. Beliau lalui semuanya hingga akhir hayatnya dengan teguh dan istiqamah.

Fitnah Al-Qur’an makhluk

Berawal di masa al-Makmun lalu terus berlangsung hingga dua khalifah penggantinya, tokoh pemerintahan termasuk khalifahnya terjangkiti virus pemahaman dari sekte mu’tazilah. Dimana kelompok ini berpaham bahwa Qur’an yang sifatnya qadim, mereka yakini sifatnya baharu atau makhluk.[2]

Berkata al-Imam Baihaqi rahimahullah:

ولم يكن في الخلفاء قبله من بنى أمية وبنى العباس خليفة الأعلى مذهب السلف ومنهاجهم

“Belum pernah terjadi sebelumnya adanya pemahaman seperti ini baik di masa Umawiyah ataupun Abasiyah, karena para khalifah semuanya berpegang kepada madzhab salaf.”[3]

Tentu demikian menyimpang dan sangat berbahaya ini ditentang oleh para ulama kala itu. Sebab, meyakini Al-Qur’an sebagai makhluk, berarti bisa saja isi Al-Qur’an itu mengandung benar dan salah. Namanya juga makhluk. Dan yang lebih berbahaya lagi, hal ini membuka potensi anggapan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya juga bisa diubah diganti atau bahkan diakhiri.

Suara ulama yang kala itu berusaha menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan mendapatkan tekanan dari penguasa. Aparat mulai turun tangan memberikan tekanan. Sehingga mulailah korban dari para ahli ilmu berjatuhan. Banyak dari ulama yang ditangkap, dijebloskan ke penjara dan menghadapi siksaan yang berat.

Yang tetap bertahan dengan pendiriannya mulai berguguran. Yang tidak tahan akhirnya terpaksa diam demi menjaga keselamatan diri dan keluarga, dan sebagiannya lagi memilih hijrah menyingkir ke wilayah-wilayah terpencil kekhilafahan Islam yang fitnah dalam masalah ini tidak terlalu menjadi isu besar.

Dan disinilah Sang Imam menunjukkan ketegarannya. Beliau ditangkap dan dipenjara serta menghadapi berbagai macam tribulasi sepanjang pemerintahan tiga penguasa kala itu, al-Makmun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq.

Salah satu fitnah terbesar

Fitnah Al-Qur’an makhluk ini disepakati oleh para ulama sebagai salah satu fitnah terbesar yang melanda kaum muslimin sepanjang sejarah. Sebabnya karena ia berkaitan dengan penyimpangan aqidah. Jadi bukan sekedar masalah fiqih apalagi hanya mu’amalah.

Sebab selanjutnya adalah karena kesesatan ini mendapatkan sokongan dari para khalifah yang teracuni oleh paham sesat ini. Sehingga kemudian penguasa yang punya kekuatan untuk memaksa, memberikan tekanan bukan hanya kepada satu dua ulama, tetapi semua ulama ahlussunnah saat itu.

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah Ta’la:

‌في ‌أيام ‌المأمون ‌ثم ‌المعتصم ‌ثم ‌الواثق ‌بسبب ‌القرآن ‌العظيم وما أصابه من الحبس الطويل والضرب الشديد والتهديد بالقتل بسوء العذاب وأليم العقاب، وقلة مبالاته بما كان منهم في ذلك إليه وصبره عليه وتمسكه بما كان عليه من الدين القويم والصراط المستقيم

“Imam Ahmad bin Hanbal terus mengalami ujian selama tiga rezim berturut-turut, yaitu masa Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan Khalifah al-Watsiq karena membela Al-Qur’an. Selama itu pula, ia dijebloskan ke penjara dalam waktu yang cukup lama, mendapat siksaan yang berat, bahkan diancam untuk dibunuh. Namun, semuanya beliau jalani dengan sabar dan tetap berpegang teguh kepada tuntunan agama dan jalan yang lurus.”[4]

Berikut adalah ringkasan fitnah besar yang beliau alami saat itu:

1. Era Rezim al-Makmun

Al-Makmun sebagai khalifah pertama yang terpengaruh oleh pemahaman menyimpang ini awal mulanya menjadikan tokoh-tokoh Mu’tazilah sebagai pemangku jabatan mufti dan qadhi pemerintahan. Lalu ia berkeinginan menjadikan pemikiran Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara, yang tentu kemudian ditentang oleh para ulama yang ada saat itu.

Maka tokoh dan ulama Mu’tazilah, Ahmad bin Abi Duad mulai mempengaruhinya untuk mengambil tindakan tegas kepada para ulama yang dianggap membangkang. Maka negara pun mulai menekan para ulama. Dan puncaknya terjadi pada tahun 281 H dimana seluruh ulama-ulama besar dikumpulkan lalu diuji apakah mau mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk ataukah tidak. Yang mau mengakui akan dibebaskan.

Tapi bagi yang bersikukuh tidak mau mengakui, maka akan dicabut tunjangan, gaji dan berbagai fasilitas yang kala itu diberikan oleh negara kepada para ulama. Dan bahkan tak sedikit yang langsung ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Dihadapkan kepada kepala kepolisian

Imam Ahmad dan beberapa ulama yang telah ditangkap dibawa menghadap kepada kepala keamanan negara kala itu, Ishaq bin Ibrahim. Terjadi pembicaraan yang sengit. Imam Ahmad menjawab dan mendebat setiap ucapan dari aparat negara dengan sangat telak. Beliau yang selama ini dikenal lemah lembut berubah menjadi seperti seekor singa yang mengaum, suaranya keras dan wajahnya memerah.

Karena tak mampu menghadapi hujjah Sang Imam dan juga adanya gejolak tekanan dari masyarakat, Imam Ahmad akhirnya dilepaskan.

Ujian gelombang kedua

Saat Imam Ahmad rahimahullah dan beberapa ulama dibebaskan, al-Makmun sedang berjihad di sebuah wilayah yang bernama Thurtus, berbatasan dengan Bizantium Romawi. Ketika dia mengetahui bahwa Sang Imam dan beberapa ulama yang menolak Al-Qur’an makhluk dilepaskan begitu saja, ia pun marah besar.

Al-Makmun memerintahkan agar seluruh ulama dikumpulkan lagi dan dilakukan pengujian untuk kedua kali terkait keyakinan Al-Qur’an makhluk. Sanksi yang dijatuhkan kali ini jauh lebih berat lagi bagi siapapun yang menolak.

Sejarah kemudian mencatat, hanya empat ulama yang tetap teguh menyatakan secara terbuka bahwa Al-Qur’an adalah qadim kalamullah. Mereka adalah Muhammad bin Nuh, al-Qawaririy, Sajadah dan Sang Imamus-sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahumullah Ta’ala.

Siksaan berat yang dihadapi

Keempat ulama ini kemudian diisolasi dalam penjara yang pengap. Menghadapi berbagai macam siksaan fisik dan mental. Hingga setelah berjalannya waktu, dua dari ulama tersebut yakni al-Qawaririy dan Sajadah tak tahan dan terpaksa mengakui dengan lisannya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Mereka akhirnya dibebaskan, tersisalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad Nuh dalam penjara tersebut.

Dibawa kepada al-Makmun

Khabar bahwa imam Ahmad dan Muhammad Nuh tetap bertahan ini membuat al-Makmun memuncak kemarahannya, bahkan dia sampai bersumpah akan memenggal sendiri kepala kedua ulama tersebut. Pesan ancaman itu disampaikan kepada Sang Imam:

يا أبا عبد الله أن المأمون قد سل سيفا لم يسله قبل ذلك، وأنه يقسم بقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم لئن لم تجبه إلى القول بخلق القرآن ليقتلنك بذلك السيف

“Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) sesungguhnya al-Makmun telah menghunus sebuah pedang, dan ia tidak akan pernah menyarungkannya sebelum tujuannya tercapai. Dia telah bersumpah dengan washilah kekerabatannya dengan Rasulullah, jika engkau tidak mau mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk, dia akan membunuhmu dengan pedang itu.”[5]

Mendengar itu Sang Imam sama sekali tidak bergeming, beliau tetap teguh dengan pendiriannya.

Akhirnya al-Makmun memerintahkan agar Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad Nuh dikirim dari penjara Baghdad untuk dihadapkan kepadanya yang kala itu masih berada di daerah Thursus.

Di sinilah terjadi pemandangan yang menakjubkan. Saat beliau dengan temannya dalam perjalanan sangat jauh itu, setiap masyarakat yang menjumpainya mengelu-elukan dan mendoakannya. Bahkan kala itu ada yang berseru kepada sang imam:

يا أحمد إن يقتلك الحق مت شهيدًا، وإن عشت عشت حميدًا، وما عليك أن تقتل هاهنا وتدخل الجنة

“Wahai Ahmad, jika engkau terbunuh dalam membela kebenaran, maka matimu adalah mati syahid. Jika engkau masih bisa hidup, hidupmu akan mulia. Dan tidaklah engkau dibunuh saat ini juga kecuali engkau akan masuk ke dalam Syurga.”

Wasiat dari seorang teman

Ketika rombongan pasukan yang membawanya ke Thurtus beristirahat di sebuah tempat, datanglah teman lama Imam Ahmad yang bernama Abu Ja’far, dia diam-diam mendekatinya dan menyampaikan beberapa nasehat kepada Sang Imam yang di antara kalimatnya adalah:

يا هذا أنت اليوم رأس، والناس يقتدون بك، فوالله لئن أجبت إلى خلق القرآن ليجيبن خلق، وإن أنت لم تجب ليمتنعن خلق من الناس كثير، ومع هذا فإن الرجل إن لم يقتلك فإنك تموت، لابد من الموت، فاتق الله ولا تجب!

“Engkau hari ini menjadi kepala bagi umat ini. Orang-orang pasti akan mengikuti apa yang engkau lakukan. Maka demi Allah, jika engkau menerima paksaan untuk mengakui Al-Qur’an adalah makhluk, seluruh makhluk akan mengikuti apa yang engkau katakan.

Dan jika engkau tetap tidak menerimanya, orang-orang juga akan mengikutimu dalam jumlah yang banyak. Dan engkau harus ingat, jika engkau tidak jadi dibunuh oleh laki-laki itu, engkau juga bakal akan mati. Kapanpun engkau pasti mati. Maka bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau penuhi permintaan mereka!”

Mendengar ini Imam Ahmad menangis, dia pun meminta agar Abu Ja’far mengulangi nasehat itu. Abu Ja’far kembali mengulang kata-katanya. Dan Imam Ahmad kembali menangis seraya berkata: Masyaallah, masyaallah.[6]

Doanya diijabah

Ketika perjalanan tersebut, Imam Ahmad memperbanyak shalat, dzikir dan berdoa. Dan salah satu doanya adalah beliau memohon kepada Allah, agar tidak dipertemukan dengan al-Makmun selama-lamanya.

سيدي غر حلمك هذا الفاجر حتى تجرأ على أوليائك بالضرب والقتل، اللهم فإن يكن القرآن كلامك غير مخلوق فاكفنا مؤنته

“Wahai Penolongku, penjahat ini telah tertipu dengan kelembutan-Mu hingga berani menyiksa dan membunuh para ulama. Ya Allah, jika Al-Qur’an itu memang benar ucapan-Mu bukan makhluk, maka sudahi kami dari bencana yang ditimbulkannya.”[7]

Dan Allah pun menjawab dengan kontan doa beliau tersebut. Di suatu malam al-Makmun tiba-tiba menghadapi sekarat dan wafat di malam itu juga tanpa sebelumnya mengalami sakit atau hal apapun. Akhirnya, beliau dan Muhammad Nuh dikembalikan lagi ke Baghdad dengan selamat.

2. Era Rezim al-Mu’tashim

Setelah kematian al-Makmun dan naik tahtanya al-Mu’tashim, Imam Ahmad tetap mendekam di penjara. Keadaannya kian memburuk ketika sahabat senasib sepenanggungannya Muhammad Nuh wafat di dalam penjara. Dan di fase ini beliau bukan hanya diuji dengan dinginnya ruangan penjara, namun juga dibelenggu kedua tangan dan juga kakinya.

Sang Imam tinggal di penjara yang pengap dan gelap. Kesehatannya kian memburuk, hingga kemudian karena desakan masyarakat, beliau dipindahkan ke penjara yang lebih layak, di sini beliau tinggal selama kurang lebih 30 bulan.

Dipojokkan terus menerus

Di fase selanjutnya ini beliau mulai didatangi tokoh-tokoh Mu’tazilah dan diajak berdebat. Bahkan salah satu debat diadakan di istana di hadapan Khalifah al-Mu’tashim. Insyallah mengenai perdebatan ini akan kami tulis di bab tersendiri. Karena diskusinya lumayan panjang dan berlangsung selama tiga hari tiga malam.

Disiksa secara fisik

Di malam keempat ketika Sang Imam tidak bisa juga ditaklukkan padahal dalam perdebatan tersebut beliau dikeroyok oleh sekian banyak lawan, al-Mu’tashim pun marah dan memerintahkan agar debat ini disudahi. Karena provokasi tokoh-tokoh Mu’tazilah Ia pun memerintahkan agar Imam Ahmad dicambuk sekian puluh kali hingga jatuh pingsan.[8]

Dibebaskan

Setelah perisitiwa ini, Sang Imam akhirnya dikembalikan kepada keluarganya. Namun dengan sebuah hal yang cukup aneh, dimana Khalifah al-Mu’tashim meminta kepada keluarganya untuk menginformasikan kepada khalayak bahwa Sang Imam dalam kondisi sehat. Mu’tashim melakukan ini karena khawatir atas revolusi yang bisa saja terjadi karena kemarahan rakyat.

Imam Ahmad memaafkan Mu’tashim

Sebuah bukti keluhuran Sang Imam, bahwa beliau menyatakan telah memaafkan perbuatan Mu’tashim yang telah memukulinya di malam perdebatan itu. Ketika ditanya sebabnya, beliau menjelaskan kalau Mu’tashim melakukan itu bukan karena membela Mu’tazilah dengan pemikiran sesatnya, tapi karena ia terus dipengaruhi dan disulut kemarahannya oleh orang-orang yang ada disekitarnya.

Hingga karena doa dari Sang Imam juga, al-Mu’tashim bisa membuka Amuriyah dalam kisah yang terkenal itu pada tahun 223 H, yakni saat sang khalifah bergerak membebaskan seorang Muslimah yang ditawan oleh tentara Romawi di sana.

3. Era Rezim al-Watsiq

Setelah berada di rumah dengan dirawat sekian lama akhirnya kesehatan Sang Imam berangsur pulih. Beliaupun sudah mulai bisa mengajar dan memberi fatwa di masjid. Saat itu wafatlah al-Mu’tashim dan digantikan oleh anaknya Watsiq yang merupakan anak didik dari Ahmad bin abu Duad, pentolan Mu’tazilah yang sangat jahat dan teramat memusuhi Imam Ahmad.

Watsiq melakukan hal yang lebih buruk dari apa yang dilakukan oleh al-Makmun karena ia memberi wewenang kepada Ahmad bin Abi Duad sehingga dia leluasa menyebarkan kebid’ahannya.

Bahkan yang membuat masyarakat marah, beberapa tawanan kaum muslimin yang ada di penjara musuh baru akan dibebaskan dan ditebus jika mau mengakui Al-Qur’an makhluk, jika tidak akan dibiarkan tetap ditawan musuh.[9]

Al-Watsiq bahkan membunuh beberapa ulama diantaranya Syaikh Ahmad bin Nashr Al-Khuza’i dan menjebloskan ke tahanan beberapa ulama lainnya.[10]

Kondisi semakin memburuk. Kelompok Mu’tazilah semakin berani bertingkah karena merasa di atas angin karena sokongan penuh negara. Akibatnya beberapa kelompok masyarakat mulai merencanakan pemberontakan. Diantara mereka meminta fatwa dari Sang Imam.

Namun Imam Ahmad bin Hanbal berfatwa agar masyarakat tetap bersabar, karena beliau menimbang kerusakan dan kehancuran akan lebih besar bila sampai terjadi pertumpahan darah diantara kaum muslimin.

Pengusiran Imam Ahmad

Karena kebenciannya yang memuncak kepada Imam Ahmad, al-Watsiq kemudian mengirim surat kepada sang imam yang diantara isinya adalah:

لا يجتمعن إليك أحد، ولا تساكنى بأرض، ولا مدينة أنا فيها.

“Jangan sampai engkau bertemu dengan siapapun, jangan engkau menetap di wilayahku dan jangan engkau tinggal di kotaku.”

Karena hal ini Imam Ahmad kemudian meninggalkan rumahnya dan hidup bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain di rumah murid-muridnya. Beliau tidak bisa keluar dari rumah bahkan sekedar untuk menghadiri shalat berjama’ah. Kondisi ini berlangsung hingga wafatnya al-Watsiq pada tahun 231 H.

Imam Abu Hatim pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahasia kesabaran dan bagaimana dia bisa melalui ujian yang sangat berat ini.

كيف نجوت من سيف ‌الواثق؟ وعصا المعتصم؟

“Bagaimana engkau bisa selamat dari pedangnya al-Watsiq dan cambuknya al-Mu’tashim?”

Beliau menjawab:

يا أبا حاتم، لو وضع الصدق على جرح برأ

“Wahai Abu Hatim, seandainya kejujuran itu diletakkan di atas luka sekalipun, maka ia akan langsung sembuh.”[11]

4. Era Rezim al-Mutawakil

Setelah kematian al-Watsiq, yang naik menjadi khalifah selanjutnya adalah seorang yang dikenal shalih dan beraqidah ahlussunnah wal jama’ah, yakni al-Mutawakil Billah. Maka berakhirlah babak ujian penderitaan bagi Sang Imam dan para ulama berganti dengan ujian kelapangan, kemudahan dan rayuan kesenangan dunia.

Di masa ini para ulama bukan hanya mendapat pembebasan tanpa syarat, tapi juga dipersilahkan mendakwahkan ajaran ahlusunnah dan diberi fasilitas oleh negara. Hak -hak mereka dikembalikan secara penuh seperti sebelumnya bahkan kini lebih dilipatgandakan.[12]

Mereka yang pernah dipenjara ataupun sekedar diganggu ketenangannya di masa sebelumnya mendapat permohonan maaf, kompensasi dan penghormatan secara khusus dari Khalifah. Dan disinilah Sang Imam memasuki babak ujian baru dalam kehidupannya. Ujian kesenangan dunia.

(Sumber: arrahmacom)


[1] A’lamus Salaf, hal. 340
[2] Bidayah wa Nihayah (10/331)
[3] Tis’iniyah (1/295)
[4] Bidayah wa Nihayah (10/330)
[5] Al Bidayah wa Nihayah (10/332)
[6] Tarikh ad Damasyqi (5/312)
[7] Bidayah wa Nihayah (10/332)
[8] Bidayah wa Nihayah (10/333)
[9] Dararusunnah ( 2/344)
[10] Masail li imam Ahmad wa Ishaq (1/39)
[11] Mukhtashar Tarikh Damasyqi (3/253)
[12] Tis’iniyah (1/80)

Muslim Mujahid
Muslim Mujahid
Admin laman situs resmi (website official) Majelis Mujahidin: www.majelismujahidin.com. Artikel yang diposting merupakan pernyataan, kebijakan dan intruksi resmi institusi, atau opini (wijhah) pribadi masing-masing penulis. Anda bisa melakukan feedback (umpan balik) dalam kolom komentar yang tersedia dalam web ini atau pada akun media sosial kami. Jazakumullah khairan!

Latest news

- Advertisement -spot_img

Related news

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.