Khutbah Idul Adha 1442 H: Musibah Akibat Khianati Amanat Allah

Oleh Ustadz Irfan S. Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ . اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ . اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ . اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ .

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ الرِّسالةَ ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ ، وَنَصَحَ الأمَّةَ ، وَجاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِينُ . قاَلَ الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai kaum mukmin, taatlah kalian kepada Allah dan jadilah kalian golongan yang jujur. (QS At-Taubah (9): 119)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taat kepada Allah dan bertauhid serta selalu berbuat kebajikan. (QS An-Nahl (16): 128)

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ …

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang telah menganugerahkan berjuta kenikmatan kepada kita, di antaranya adalah kenikmatan ibadah Idul Adha walau dalam suasana pandemi COVID-19 yang belum juga mereda. Semua ini harus kita syukuri sebagai hamba yang tahu diri, karena segala yang terjadi di muka bumi ini, Allah lah yang Maha Mengerti.

Perayaan Idul Adha selalu menjadi momen spesial bagi umat Islam sedunia. Setidaknya ada dua hal pokok yang selalu menonjol dalam momentum Idul Adha; pertama, ibadah haji. Jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Kedua, pelaksanaan qurban atau penyembelihan sejumlah hewan ternak, yang mengandung pesan pengorbanan, pesan sosial, pesan spiritual dari sejarah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail ‘alaihimassalam.

Namun pada tahun ini, 10 Dzulhijjah 1442 H bertepatan dengan Hari Selasa 20 Juli 2021 M, kita kembali merayakan Idul Adha dalam keterbatasan seperti tahun lalu. Tidak semua umat Islam bisa melaksanakan ibadah shalat Idul Adha sesuai sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilaksanakan secara berjama’ah di tanah lapang. Bahkan sudah dua kali musim haji, umat Islam tidak bisa melaksanakan ibadah haji ke Makkah Al-Mukarramah dengan alasan pandemi COVID-19.

Hari Raya idealnya adalah hari sukacita. Idul Qurban sejatinya adalah hari kegembiraan. Namun sayang, bagi sebagian umat Islam, sukacita itu masih terkubur oleh dukacita. Kegembiraan masih tertutupi oleh kabut kesengsaraan. Perayaan Hari Raya Qurban masih diselimuti oleh ragam penderitaan.

Pandanglah sejenak ke berbagai negeri nun jauh di sana: Palestina masih terus dirundung duka. Puluhan tahun tersiksa dicengkeram Zionis sang durjana. Rohingnya masih amat menderita. Terus dizalimi rezim Budha yang berkuasa. Mereka makin tak berdaya, setiap saat harus rela meregang nyawa. Muslim Uighur masih tersungkur. Dipenjara dan terus disiksa oleh kejamnya rezim komunis Cina. Suriah masih terluka parah. Menjadi korban kebiadaban rezim haus darah, sekaligus menjadi rebutan negara-negara penjajah.

Di belahan bumi yang lain, termasuk di negeri ini, kaum muslim masih tetap terpinggirkan, menjadi korban ketidakadilan. Sekaligus tumbal kebencian para pembenci Islam. Isu radikalisme terus digaungkan. Sama seperti isu terorisme sebelumnya yang penuh rekayasa, sebagai upaya sistematis de-Islamisasi, yaitu merusak ajaran Islam dari dalam dengan menggerogoti nilai-nilai Islam.

Yang makin mengiris hati, kaum sekular radikal pengidap Islamophobia makin berani tampil ke permukaan. Ajaran Islam mulai banyak dipersoalkan. Simbol-simbolnya mulai sering dipermasalahkan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ …

Setiap muslim, mendapatkan amanah dari Allah Rabbul Alamin, yaitu amanah untuk melaksanakan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari, agar kehidupan kita ini berjalan dengan tertib, terarah dan penuh kedamaian. Sebaliknya, bila kita mendustai amanat Allah, niscaya Allah akan memberikan segala azab yang diturunkan kepada kita, sehingga kehidupan menjadi kacau balau, penuh dengan rasa takut, permusuhan, peperangan dan berbagai konflik sosial dan politik di masyarakat.

Pokok pangkal dari segala kekacauan di dunia ini akibat mengkhianati amanat Allah untuk melaksanakan tatanan kehidupan yang Islami sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai kaum mukmin, janganlah kalian berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian, padahal kalian menyadari bahaya pengkhianatan itu. (QS Al-Anfal (8): 27)

Allah menyeru kaum Muslimin agar mereka tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan, melanggar larangan-larangan-Nya, yang telah ditentukan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Tidak mengkhianati amanat yang telah dipercayakan kepada mereka, maksudnya tidak mengkhianati segala macam urusan yang menyangkut ketertiban masyarakat, seperti urusan pemerintahan, urusan perang, urusan perdata atau pidana, urusan kemasyarakatan dan tata tertib hidup berbangsa dan bernegara.

Untuk mengatur segala macam urusan yang ada dalam masyarakat itu diperlukan adanya peraturan yang ditaati oleh segenap anggota masyarakat dan oleh pejabat-pejabat yang dipercaya mengurusi kepentingan rakyat.

Hampir seluruh kegiatan dalam masyarakat berhubungan dengan kepercayaan itu. Itulah sebabnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum muslimin mengkhianati amanah, karena apabila amanah sudah tidak terpelihara lagi berarti hilanglah kepercayaan. Apabila kepercayaan telah hilang maka berarti ketertiban hukum tidak akan terpelihara dan ketenangan hidup bermasyarakat tidak dapat dinikmati.

Khianat adalah sifat orang-orang munafik, sedang amanah adalah sifat orang-orang mukmin. Maka orang mukmin harus menjauhi sifat khianat itu agar tidak kejangkitan penyakit nifak yang dapat mengikis habis imannya. Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik berkata:

مَا خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ قَالَ : لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap khutbahnya selalu bersabda: “Tidak sempurna keimanan bagi orang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama seseorang bagi yang tidak memenuhi janji.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Jangan Khianati Amanat Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ …

Pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menyaksikan bagaimana orang-orang yang tidak bisa dipercaya perbuatan maupun omongannya, mengkhianati jabatan yang telah diamanahkan negara kepadanya; dinodai oleh suatu perbuatan khianat terhadap tugas-tugasnya dan kekuasaan yang dipegangnya. Para pemegang amanah itu tidak menjalankan amanat sesuai cita-cita kemerdekaan, seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yakni: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Tetapi tragisnya, sekalipun khianat mereka terus berusaha mempertahankan amanat yang diberikan kepadanya dengan berbagai cara dan rekayasa.

Dalam Islam perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merupakan perbuatan munkar. Harta yang diperoleh dari hasil korupsi dinyatakan sebagai makan harta dengan cara batil, yang berarti makan harta haram. Para pejabat negara, menteri, hakim, jaksa, polisi, tentara, anggota dewan, yang diamanahi mengelola negara, menjadi penegak keadilan hukum. Termasuk wali kota, bupati, gubernur, bila dalam menjalankan Amanah jabatannya, mereka melakukan tindak pidana korupsi, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat pada negara.

Jadi, pengkhianat negara bukan hanya mereka yang bekerja sama dengan musuh asing atau agen luar negeri demi memuluskan kepentingannya yang berlawanan atau mencederai tujuan dan falsafah negaranya sendiri. Akan tetapi para koruptor dan manipulator, juga pengkhianat, karena pengabdian mereka pada negara diawali dengan sumpah jabatan. Bila dalam menjalankan tugas mereka melanggar sumpah untuk taat dan setia pada UU dan konstitusi negara, berarti mereka telah berkhianat pada janji atau sumpahnya.

Banyak penyebab terjadinya korupsi, antara lain buruknya tata pemerintahan dan tidak adanya teladan dari atasan. Tetapi penyebab paling utama, adalah keserakahan orang-orang yang menduduki jabatan publik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang bahaya keserakahan pada harta dunia dengan sabdanya:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ . وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ .

“Barangsiapa yang hidupnya dipenuhi semangat mencari kepentingan dunia, maka Allah jadikan dia menghadapi kesulitan dalam semua urusannya, dan di depan matanya selalu dibayangi perasaan miskin, padahal yang ia peroleh di dunia ini tidak akan melebihi yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya. Akan tetapi barang siapa yang menjadikan kepentingan akhirat sebagai semangat untuk membangun kehidupannya di dunia ini, maka Allah menjadikan seluruh urusannya mudah, hatinya tenang, dan kebutuhan dunianya terpenuhi datang berlimpah.” (HR. Ibnu Majah dari Utsman bin Affan)

Bangsa Indonesia sudah membuktikan, betapapun pemerintah sudah bekerja keras, dari pemerintahan yang satu ke pemerintahan berikutnya, kesulitan tidak pernah bisa diselesaikan. Mengapa? Karena spiritnya hanya untuk mengejar dunia, keberhasilan ekonomi, tidak ada sedikitpun rasa takut kepada Allah. Sehingga jalan yang ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tidak memperdulikan haram dan tidak peduli halal.

Manusia yang spirit hidupnya hanya berorientasi untuk kepentingan dunia saja, untuk mengumpulkan harta kekayaan di dunia. Maka Allah jadikan segala urusannya menjadi ‘ruwet’ sulit ditangani, sulit diselesaikan.

Inilah yang membedakan manusia yang memahami tanggung jawabnya kepada Allah dan mereka yang mengkhianatinya. Dari pola hidupnya saja sudah nampak, yang satu serakah dengan dunia sehingga mengakibatkan bencana, mengakibatkan permusuhan. Karena serakahnya itu, kemudian mereka menciptakan berbagai macam rekayasa sekalipun mendatangkan kerugian dan kerusakan.

Rahmat Allah semoga senantiasa melimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diangkat oleh Allah untuk menjadi teladan hidup, bagaimana menjalankan amanat Allah di muka bumi dengan baik dan benar.

Sehingga sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa tiada zaman yang baik dalam kehidupan manusia di dunia ini melebihi zaman ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan syari’at-Nya dengan murni dan konsekuen.

Kalangan sejarawan mengakui bahwa manusia yang dibina oleh Rasulullah pada awal Islam itu adalah manusia terbaik yang berhasil melahirkan sejarah kehidupan yang paling baik di muka bumi ini. Oleh karena itu, zaman itu digelari sebagai generasi yang hidup dalam masa al-qurun al-mufadhdhalah, zaman yang dimuliakan.

Iman, Imun, Aman

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ …

Hari-hari pandemi COVID-19, kita rasakan kehidupan masyarakat semakin sulit dan menderita. Masyarakat semakin rentan terhadap berbagai penyakit, sementara wabah penyakit semakin hebat berkembang, padahal dunia kedokteran semakin maju dan modern.

Banyak masyarakat yang membicarakan virus menakutkan ini, baik terkait dampak, cara pencegahan, penyembuhan dan antisipasinya. Marilah kita ikuti petunjuk agung dalam Al-Qur’an terkait bahaya virus yang telah menebar ketakutan di seluruh dunia ini. Sehingga dapat menerangi dan memberi petunjuk bagi orang beriman menuju sikap dan jalan iman, imun, dan aman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sungguh Al-Qur’an ini memberi petunjuk untuk mengikuti Islam, agama yang benar dan memberikan harapan pahala surga kepada orang-orang mukmin yang beramal shalih. Mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar. (QS Al-Isra’ (17): 9)

Wahai kaum mukmin, petunjuk Al-Qur’an yang Pertama, kita harus mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa kehidupan dunia ini merupakan medan cobaan dan rumahnya ujian. Dimana Allah telah menciptakan manusia untuk tujuan tersebut. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala ini:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wahai manusia, Allah adalah Tuhan yang menjadikan kalian sebagai pengelola-pengelola di bumi. Allah menjadikan nasib kalian berbeda-beda, sehingga sebagian kalian ada yang melebihi sebagian lainnya. Perbedaan nasib itu untuk menguji kalian dalam menggunakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kalian. Tuhan kalian sangat cepat dalam menimpakan siksa-Nya kepada orang yang durhaka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya. (QS Al-An’am (6): 165)

Petunjuk kedua, bahwa seorang hamba tidak terkena musibah kecuali apabila telah dituliskan dan ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Wahai Muhammad, katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditakdirkan Allah bagi kami. Allah adalah pelindung kami, dan hanya kepada Allah lah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS At-Taubah (9): 51)

Sehingga tidak akan menimpa seorang hamba kecuali apa yang telah Allah tulis baginya. Oleh karena itu, seorang muslim sangatlah perlu untuk memperbaharui imannya terhadap qadha dan qadar, ketetapan dan takdir. Apa yang sudah ditetapkan Allah akan menimpa tidak akan meleset. Dan apa yang tidak Allah tetapkan, tidak akan menimpa. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Ia kehendaki, tidak akan terjadi.

Wahai kamu mukmin, petunjuk Al-Qur’an ketiga pada fenomena ini adalah, hendaknya seorang mukmin mengetahui, bahwasanya yang dapat menghilangkan musibah hanyalah Allah. Karena ubun-ubun seorang hamba ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Sehingga seorang mukmin itu harus yakin bahwasanya hanya Allah-lah yang dapat menghilangkan segala bentuk musibah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Wahai Muhammad, jika Allah menimpakan bahaya kepada kamu, tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kamu selain Allah. Jika Allah menghendaki memberimu rahmat, tidak ada yang dapat menolak rahmat-Nya. Rahmat atau adzab itu akan menimpa siapa saja dari hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya. (QS Yunus (10): 107)

Jadi, manusia perlu ikhtiar tanpa melanggar syariat Allah. Mari kita tingkatkan iman kepada Allah dengan beramal shalih. Kemudian menjaga kesehatan dengan meningkatkan imunitas tubuh, dengan makan yang halal, cukup dan bergizi. Karena yang dapat menghilangkan malapetaka dan bala, mengangkat kesusahan dan cobaan hanyalah Allah, Rabb semesta alam.

Petunjuk Al-Qur’an yang keempat adalah do’a, munajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Do’a merupakan kunci setiap kebaikan, jalan keluar dari setiap kesusahan, dan keselamatan bagi setiap ketakutan. Do’a merupakan senjata orang mukmin.

Dan do’a akan sangat bermanfaat untuk menolak dan mengangkat musibah. Bahkan do’a merupakan antisipasi dari musibah. Do’a akan menghalaunya, menolaknya dan akan menjadi sebab terlindunginya seorang mukmin dari musibah.

Apabila musibah diibaratkan dengan anak panah, maka do’a adalah tameng pelindungnya, dengan izin Allah. Oleh karena itu, seharusnya seorang hamba menjadikan do’a sebagai tameng-nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

Wahai kaum mukmin, janganlah kalian berbuat dosa, permusuhan dan kezhaliman di muka bumi, sesudah datangnya syari’at Allah yang memperbaiki keadaan manusia. Berdo’alah kepada Allah dengan rasa takut akan siksa-Nya dan penuh harap atas rahmat-Nya. Sungguh rahmat Allah subhanahu wa ta’alatu dekat dengan orang-orang yang taat kepada-Nya. (QS Al-A’raf (7): 56)

Dan telah shahih dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya doa itu bermanfaat pada apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi, oleh karena itu berdoalah kalian wahai hamba Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Maksud dari “yang sudah terjadi” adalah dengan diangkatnya musibah. Dan maksud dari “yang belum terjadi” adalah ditolaknya musibah. Do’a bermanfaat pada kedua kondisi tersebut. Oleh karena itu seharusnya seorang hamba memerbanyak do’a, dengan keyakinan dan kepercayaan penuh akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara do’a yang sangat bermanfaat pada keadaan kita saat ini adalah sebuah do’a yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan selainnya dari hadits Anas, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari penyakit belang, kusta dan gila dan dari segala penyakit buruk lainnya.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، والجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ .

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang buruk lainnya.” (HR. Abu Dawud)

Semua ini, mengantarkan seseorang kepada petunjuk Al-Qur’an yang kelima, yaitu bertawakal pada Allah. Menyerahkan segala urusan kepada-Nya, dan senantiasa berharap atas karunia-Nya. Karena barangsiapa yang bertawakal pada Allah akan dicukupi, dan barangisapa yang bersandar kepada Allah akan dilindungi.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Allah akan memberikan rezeki kepada orang mukmin dari arah yang tidak disangka-sangka. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, cukuplah Allah menjadi penjamin orang mukmin. Allah pasti mengabulkan permohonannya. Allah menetapkan apa saja dengan ukuran tertentu. (QS Ath-Thalaq (65): 3)

Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan do’a ini:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ : بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّه ِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه ِ، قَالَ : يُقَالُ حِينَئِذٍ : هُدِيتَ ، وَكُفِيتَ ، وَوُقِيتَ ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ : كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ ؟

“Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca ‘bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah’, maka disampaikan kepadanya: ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ‘Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik, dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, dan dengan persaksian bahwa Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, agar Allah mengangkat musibah dan cobaan dari kita serta kaum muslimin dimanapun berada. Agar Allah hilangkan dari kita cobaan yang berat, susah dan sukar. Agar Allah menjaga kita semua sebagaimana panjagaan-Nya terhadap orang-orang shalih.

Do’a dan Munajat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Segala puji bagi Allah Rabbul alamin. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Pujian yang menyamai nikmat-Nya dan menandingi keutamaan-Nya. Ya Rabb kami, untuk-Mu pujian yang sebanding dengan kebesaran dan kemuliaan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَالْمَوْتِ، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rezeki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami waktu (sekarat) menghadapi mati, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.

اللهم أَرِنَا الْحَقَ حَقاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ .

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar itu sebuah kebenaran dan berikan rezeki kepada kami untuk mengikutinya. Tampakkanlah kepada kami yang batil itu sebuah kebatilan dan berikan rezeki kepada kami agar menjauhinya.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﳞ [الممتحنة]

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan orang-orang kafir menguasai kami, sehingga kami menderita akibat tindakan buruk mereka, dan ampunilah kami. Wahai Tuhan kami, sungguh hanya Engkaulah Tuhan yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﳞ [البقرة]

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, dan kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam.[]

Download Khutbah Id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.