Tausiyah: Anak, Investasi Jalan Ke Surga

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Thalib

Setiap orang tua muslim pasti tidak menginginkan anak-anaknya menjadi musuh bagi dirinya selama hidupnya di dunia. Karena itu langkah apa yang harus dilakukan oleh orang tua agar anak tidak menjadi musuh bagi dirinya, tetapi justru menjadi investasi sangat berharga bagi orang tua untuk memperoleh jalan ke surga. Untuk itu setiap orang tua wajib melakukan upaya-upaya yang benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini kita berikan uraian ringkasnya, dan untuk selanjutnya setiap orang tua dapat membaca buku “Kiat-kiat Mendidik Keshalihan Anak“. Buku itu memuat penjelasan lengkap tentang petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak.

Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Wahai orang-orang beriman, sung­guh di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang merintangi kalian berjuang membela agama Allah. Karena itu, berhati-hatilah kalian menghadapi mereka. Jika kalian me­maafkan dan berlapang dada serta mau mengampuni kesalahan-ke­salahan mereka, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya. Harta dan anak kalian merupakan ujian keimanan bagi kalian di dunia. Surga yang ada di sisi Allah adalah pahala yang amat besar.”  (At-Taghabun, 64: 14-15)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa neraka. Neraka itu bahan bakarnya adalah manusia dan berhala-berhala. Malaikat yang kekar lagi kasar menjaga neraka. Para malaikat tidak pernah menyalahi perintah yang Allah berikan kepada mereka. Para malaikat senantiasa melaksa­nakan perintah-Nya.” (At-Tahrim, 66: 6)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ » .

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal; wakaf dari hartanya sendiri, ilmu yang bermanfa’at bagi umat manusia dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ ؛ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ » .

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kebaikan yang akan menyusul seorang mukmin setelah ia meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan, Al-Qur`an yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah singgah yang ia bangun untuk musafir, sungai yang ia alirkan untuk kepentingan orang banyak, atau sedekah yang ia keluarkan dari harta miliknya ketika ia masih sehat. Pahala semua kebaikannya itu akan menyusulnya setelah dia meninggal.” (HR. Ibnu Majah)

Apa langkah-langkah yang harus dilakukan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai anak shalih? Langkah-langkahnya antara lain:

Memberi Nafkah yang Halal kepada Anak

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ : « … يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ ، إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ . يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ ، النَّاسُ غَادِيَانِ فَمُبْتَاعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا ، وَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُوبِقُهَا » .

Dari Jabir bin ‘Abdullah, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujrah, “… Wahai Ka’ab bin Ujrah sesungguhnya tidak akan masuk syurga daging yang tumbuh dari makanan yang diharamkan oleh Allah, dan neraka adalah tempat yang lebih tepat baginya.  Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, manusia keluar di pagi hari meninggalkan rumahnya dengan menghadapi dua hal; yaitu ia terjerumus dalam perbuatan haram lalu bertobat, atau terus menerus terjerumus dalam hal yang haram sehingga agamanya rusak.” (HR. Ahmad)

Mengajarkan Al-Qur’an kepada Anak-anak

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :   « إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ » .

Dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang tidak mau menghafal sedikit pun ayat Al-Qur’an ibarat rumah yang rusak.” (HR. Tirmidzi)

Mengajarkan Halal-Haram

عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ قَالَ : أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « كِخْ كِخْ . ارْمِ بِهَا ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ » .

Dari Abu Hurairah ia berkata; suatu ketika Al-Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari tumpukan kurma sedekah, lalu ia masukkan ke mulutnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Kikh… kikh…, buanglah kurma itu. Tidakkah kamu tahu bahwa kita haram memakan harta sedekah.” (HR. Muslim)

Wallahu’alam bish shawab…

Komentar