Soal Temanggung, Jangan Dikompori dengan Kutukan

Sejumlah mobil dan sepeda motor dibakar masa di tempat parkir gereja Pantekosta Temanggung pada kerusuhan sidang vonis kasus penistaan agama dengan terdakwa Richmond Bawengan di Temanggung, Jateng, Selasa (8/2). Aksi massa dipicu ketidakpuasan atas vonis lima tahun kepada terdakwa yang mengakibatkan tiga buah rumah ibadah dirusak masa, empat mobil dan belasan sepeda motor dibakar masa. ANTARA/Anis Efizudin

TEMPO InteraktifYogyakarta – Ketua Lajnah Tanfidziah Majelis Mujahidin (MM) Irfan S Awwas menilai kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah, merupakan ekspresi kemarahan yang disulut kasus penistaan agama.

“Jangan dikompori dengan kutukan. Apalagi ada komunitas tertentu yang tampil sok pahlawan kemanusiaan. Para tokoh agama sebaiknya menasihati umat agama masing-masing jangan mengutuk tanpa pertimbangkan penyebabnya. Itu kezaliman. Aparat supaya adil jangan bertindak menyenangkan minoritas atau pihak asing,” kata Irfan kepada Tempo, Rabu (9/2).

Kemarin, massa merusak tiga gereja dan satu sekolah Katolik di Temanggung, Jawa Tengah. Amuk massa dipicu ketidakpuasan massa terhadap keputusan Pengadilan Negeri Temanggung dalam kasus penistaan agama dengan terdakwa Antonius Richmon Bawengan.

Sebelumnya, Irfan dalam acara seminar peringatan 14 tahun Forum Persaudaraan Umat Beriman di Universitas Islam Indonesia menyatakan tindak kekerasan tidak disebabkan semata-mata oleh faktor perbedaan agama. Konflik Islam-Kristen di berbagai tempat bukan murni karena agama, melainkan akibat masalah politik, ekonomi, sosial, penyebaran agama, kemurtadan dan pembangunan tempat ibadah yang menyimpang.

Menurut Irfan, agama bisa diperalat sebagai senjata konflik ketika agama yang benar dipaksakan untuk tunduk kepada kemauan manusia. Sebab hal itu menjurus ke agama yang dibelokkan dan agama palsu.

“Konflik akan menjalar ketika agama tidak diberi peluang untuk menyelesaikan problem antar umat beragama,” kata dia.

Justru, tambah dia, konflik Islam-Kristen di Indonesia disulut oleh sikap penguasa. “Ideologi kekerasan dianut oleh penguasa, diperkuat dengan provokasi kelompok anti agama, kaum sekuler, dan liberal,” kata Irfan.

M. SYAIFULLAH/tempointeraktif.com

Komentar