Mewariskan Pahala atau Dosa adalah Sebuah Pilihan

Oleh Ustadz Ahmad Isrofiel Mardlatillah

Keyakinan terhadap adanya hari pembalasan kelak di akhirat, memotivasi orang mukmin terus-menerus berusaha berbuat baik selama hidupnya di dunia. Kemudian mewariskan kebaikan-kebaikan itu kepada orang lain, terutama keluarganya, agar dapat memperoleh pahala dari Allah atas segala usaha yang dilakukannya di dunia, sekalipun dia sendiri telah mati.

Firman Allah:

 إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ (12)

Wahai Muhammad, engkau hanya dapat memberikan ancaman kepada orang-orang yang mau mengikuti Al-Qur’an dan takut kepada Tuhan Yang Mahabelas kasih sekalipun mereka tidak melihat Tuhan. Karena itu gembirakanlah orang-orang seperti itu bahwa mereka akan mendapatkan ampunan Tuhanmu dan pahala yang banyak.

Kamilah yang menghidupkan yang mati. Kamilah yang mencatat setiap perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia dan pengaruh baik atau buruk dari perbuatan itu sepeninggalnya. Semuanya itu Kami catat dengan teliti pada buku catatan amal yang mudah dibaca oleh pelakunya kelak di akhirat. [Qs, Yaa Siin, 36: 11-12]

TADABBUR

Firman Allah di atas menginformasikan, bahwa peringatan ataupun nasehat hanya bermanfaat bagi mereka yang mau mengikuti. Betapapun bagusnya sebuah nasehat, betapapun tulus kita menyampaikan, tapi bagi mereka yang tidak mau menaatinya, nasehat takkan merobah apa-apa.

Manusia yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhirat, atau beragama tetapi bukan agama Islam, tidak percaya adanya tanggung jawab manusia di Akhirat atas setiap perbuatan dan perkataannya selama hidup di dunia. Karena itu mereka tidak merasa perlu untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan di Akhirat.

Namun orang-orang mukmin sebaliknya dari mereka, yaitu selalu mempersiapkan dirinya untuk menghindarkan diri dari adzab Allah dan berusaha memperoleh nikmat yang Allah janjikan bagi orang-orang yang beramal shalih dengan segala kemampuannya di dunia ini. Orang-orang mukmin semacam ini harapannya adalah nikmat surga.

Akan tetapi orang-orang kafir, munafik dan musyrik, tidak ada yang peduli dengan persiapan diri untuk bekal hidup di akhirat. Mereka justru punya keyakinan bahwa tidak ada hidup yang lain kecuali hanya hidup di dunia ini saja. Mereka berlomba-lomba untuk meraih kesenangan dan mengumbar hawa nafsu mereka tanpa peduli pertanggungan jawab di akhirat kelak. Mereka merasa bebas berbuat apa saja bahkan berlomba-lomba mengembang biakkan perbuatan-perbuatan dosa sekalipun menghancurkan diri mereka sendiri. Misalnya, berlomba-lomba untuk berzina sekalipun menyebabkan munculnya penyakit AIDS yang mengancam keselamatan dunia sekarang ini.

Mengembangkan berbagai macam jenis minuman keras sekalipun membawa kematiannya secara mendadak. Memodernisasi segala bentuk perjudian dan peralatannya sekalipun mengakibatkan kehancuran ekonomi dan kemelaratan para pelakunya. Juga mengembangkan sikap permusuhan agar bisa menjual senjata kepada masing-masing pihak yang bermusuhan untuk meraih keuntungan ekonomi maupun politik, sekalipun menghancurkan suatu bangsa seperti kasus Irak dan Syria.

Semua kejahatan, kerusakan, dan kebobrokan serta malapetaka yang menimpa dunia bertitik tolak dari penolakan kaum kafir, musyrik dan munafik terhadap adanya pertanggungan jawab manusia kepada Allah di alam Akhirat kelak. Begitu pula banyaknya prilaku sesat ulama yang menciptakan upacara-upacara keagamaan demi mendapatkan keuntungan duniawi, semuanya berpangkal pada lemahnya aqidah kepada kehidupan di akhirat. Bahkan ada kelompok ulama yang berani merekayasa amaliah ibadah diatasnamakan Allah seperti yang dilakukan oleh para pendeta Yahudi dan Nasrani.

Celakalah orang-orang yang menulis kitab-kitab agama sesuai kehendak mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan: “Kitab ini dari sisi Allah.” Mereka bermaksud menukar agama Allah dengan kesenangan dunia yang sedikit. Celakalah orang-orang yang menulis kitab-kitab agama sesuai kehendak mereka sendiri. Celakalah mereka yang memalsukan agama Allah. [Al-Baqarah, 2: 79]

Ringkasnya, manusia diingatkan oleh Al-Qur’an bahwa setiap gerak gerik dan perkataannya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Begitu pula pengaruh baik dan buruk yang ditinggalkannya atau diwariskannya kepada orang lain juga harus dipertanggungjawabkannya kepada Allah. Orang-orang yang mewariskan perkataan dan perbuatan buruk, sekalipun dia tidak menyadari namun tetap menanggung dosa dari orang-orang yang meniru atau melestarikannya.

Mewariskan Dosa Kejahatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.” [Shahih Muslim, 1017-15]

Sebagai contoh, terkait nasib tokoh yang mewariskan dosa pada generasi setelahnya. Dalam catatan sejarah modern, kita mengenal tokoh sekuler Turki bernama Kemal Ataturk. Seorang tokoh yang berperan besar meruntuhkan Khilafah Islamiyah Turki, 1924, dan kemudian mengangkat dirinya sebagai Perdana Menteri. Selama berkuasa Kemal Ataturk benar-benar menjadi musibah bagi umat Islam.

Selain menghapus sistem khilafah, dia juga membunuh para ulama,  mengganti syariat Islam dengan sekularisme, memisahkan agama dengan negara. Ia juga menyalin mushaf al-Qur’an (bukan menerjemah) ke bahasa Turki, mengganti lafadz azan yang berbahasa Arab dengan bahasa Turki, menghapus penggunaan kalender Islam, menutup masjid Aya Sophia dan menjadikannya museum, membatalkan UU waris, dan menghapus Islam sebagai agama resmi negara.

Namun Allah Maha Adil, akhir kehidupan Kemal Ataturk sungguh nista. Ia meninggal, pada 10 November 1938, akibat berbagai penyakit yang dideritanya. Ketika meninggal, mayatnya tidak ada yang mandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, dan tidak dikebumikan seperti yang diajarkan Islam. Akibat dosa-dosanya, bumi pun tidak mau menerima jasadnya. Seperti Fir’aun, mayatnya diawetkan, dimasukkan ke peti jenazah yang terbuat dari marmer seberat 44 ton. Sampai sekarang belum dikubur, mayatnya menggantung di atas lantai di sebuah museum di Anitkabir, Ankara. Setiap saat mayatnya mengeluarkan bau busuk sehingga harus disemprot parfum terus menerus.

Lima belas tahun setelah kematiannya, 1953, keluarganya coba hendak mengubur mayatnya, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Sudah hampir satu abad, Kemal Ataturk mewariskan sekularisme di Turki, sehingga Islam di Turki seakan hilang bersama matinya Ataturk.

Patutlah kita bertanya, mayat pendeta Yahudi dan Nasrani yang kafir saja, bahkan Karl Marx yang atheis pun masih bisa dikubur ke dalam tanah. Tapi Ataturk, sampai sekarang mayatnya tidak bisa dikubur. Sebesar apakah dosa dan kemurkaan Allah kepada Kemal Ataturk, sehingga bumi Allah menolak dijadikan makam tempat peristirahatan terakhirnya?

Janganlah beranggapan, dengan mati urusan manusia sudah selesai. Justru dengan mati itu adalah awal kehidupan babak baru, untuk melanjutkan kebahagian  atau kita melanjutkan kesengsaraan.

Mewariskan Pahala Kebaikan

Keberuntungan hidup di dunia dan akhirat merupakan dambaan setiap mukmin. Kita ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Deposito berharga yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri kelak di Akhirat, ditunjukkan Allah subhanahu wa ta’ala, melalui lisan Rasul-Nya, yaitu mendermakan sebagaian harta, menebar ilmu dan memperbanyak amal shalih.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ .

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang shalih.” [HR. Muslim]

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengajarkan, bahwa jika manusia meninggal dunia, maka segala amalnya terputus, kecuali tiga perkara yang dapat menyelamatkan dirinya, yaitu:

Pertama, sadaqah jariyah, yaitu wakaf yang kita berikan selama hidup di dunia, dan dapat bermanfaat bagi orang lain untuk beribadah dan menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam kaitan ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Wahai kaum mukmin, keluarkanlah derma dari sebagian harta yang Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari kiamat. Pada hari kiamat tidak ada lagi tebusan dosa. Tidak ada teman yang dapat menolong orang-orang kafir, dan bagi mereka tidak ada pertolongan dari Allah. Orang-orang kafir itu benar-benar merugikan diri sendiri.” [Al-Baqarah, 2: 254]

Mendermakan harta di dunia sebagai persiapan menghadap Allah subhanahu wa ta’ala kelak di akhirat, merupakan sifat orang beriman. Sedangkan orang yang kikir mendermakan hartanya di jalan Allah adalah mentalitas orang-orang munafik. Adakalanya mereka mendermakan hartanya, tapi bukan untuk meraih keridhaan Ilahy, bukan untuk menjadikan dirinya semakin cinta pada kebenaran, melainkan untuk kepentingan dunia, mencari pujian dari orang lain agar disebut dermawan. Mereka memberi sumbangan pada orang lain untuk mendapatkan popularitas dan mendapatkan imbal balik dari mereka yang disumbangi.

Misalnya, ada orang memberi sumbangan supaya didukung sebagai anggota DPR/DPRD, sama sekali bukan untuk memperoleh keridhaan Allah. Ada juga orang yang mencalonkan diri jadi Gubernur, Bupati atau jabatan lainnya, tiba-tiba dia begitu dermawan, dan rela menghamburkan uang demi mendapatkan dukungan konstituen.

Seperti orang kafir, memberi bantuan kemanusiaan dengan tujuan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Mereka bangun pabrik bir, mengadakan festival gay dan lesbian, mereka tak ragu menghamburkan uang. Mereka juga membantu negara lain supaya pemerintahnya bersedia membuat aturan dan UU sesuai agenda mereka, yaitu menjauhkan masyarakat dari syari’at Allah. Begitulah faktanya, seperti firman Allah:

“Kaum kafir mendermakan harta mereka untuk menyesatkan manusia dari agama Allah. Kaum kafir yang telah mendermakan hartanya untuk menyesatkan manusia, mereka kelak akan menyesal. Kemu dian di medan perang, kaum kafir akan dikalahkan oleh kaum mukmin. Dan orang-orang kafir di akhirat kelak akan dikumpulkan di neraka Jahannam.” [Al-Anfaal, 8: 36]

Kedua, ilmun yuntafa’u bihi, yaitu ilmu yang bermanfaat yang diajarkan pada masyarakat, dan tetap bermanfaat setelah meninggal. Seperti dikatakan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya. Semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak orang yang menyayangi dan menghormatinya. Sedangkan semakin banyak harta, semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya. Ilmu jika diamalkan akan semakin bertambah, sedangkan harta jika digunakan akan semakin bekurang. Pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan) di hari akhir kelak, sedangkan pemilik harta akan dihisab, diusut asal muasal hartanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Contohnya Imam Syafi’i, telah mewariskan kitab-kitab untuk memberikan penjelasan tentang Islam, maka akan terus mendapatkan pahala dari orang-orang yang melestarikan jasa-jasa beliau.

Imam Syafi’i memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan ahli hadits karena pembelaannya pada Sunnah yang sangat gigih. Dia telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dalam ilmu periwatan hadits, juga menulis kaidah dasar Ushul Fiqh lewat kitabnya yang terkenal Ar-Risalah.

Berapa banyak manusia yang tercerahkan pikiran dan hatinya, dan mendapat hidayah Allah melalui kitabnya. Jika manusia mendapat kebaikan dan mengamalkannya, maka pahalanya akan terus mengalir hingga yaumil qiyamah, tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya.

Demikianlah keadilan Allah dalam memberikan balasan kepada manusia. Bila kebaikan yang diwariskan, maka akan mengalir pahalanya terus menerus. Sebaliknya, manakala kejahatan yang diwariskan, pasti akan menambah beban dosa sekalipun ia telah mati.

Ketiga, waladun shalih, yaitu anak yang shalih. Jika kita meninggalkan anak-anak yang shalih, baik anak itu mendo’akan kita setiap saat atau tidak, tapi keshalihan anak itu saja sudah menambah pahala yang terus menerus bagi orang tuanya. Maka jangan biarkan anak-anak kita berkubang dalam kehidupan pergaulan bebas, yang mengabaikan agama dan menuruti hawa nafsu belaka.

“Sepeninggal para Nabi datanglah generasi baru yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsunya. Karena itu mereka pasti ditimpa kebinasaan. Kecuali mereka yang bertobat, beriman dan beramal shalih. Mereka akan diberi pahala surga, mereka tidak sedikitpun akan diperlakukan dzalim.” [Maryam, 19: 59-60]

Pastikan dalam keluarga kita bebas dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Jika tidak, maka akan berakibat buruk, memasukan orang tuanya dalam api neraka. Mengapa orang tua masuk neraka karena perbuatan anaknya? Sebab anak mengikuti perilaku dan perbuatan orang tuanya, sampai orang tuanya meninggal perbuatan tadi masih dilakuakan oleh anakanya. Begitupun orang tua yang shalih akan ditiru oleh anak-anaknya, ketika dia meninggal maka kebaikan orang tua tadi pasti akan terus mengalir pahalanya.

Setiap muslim harus berhati-hati, terutama dalam mendidik keluarganya. Jangan meninggalkan hal-hal buruk untuk ditiru anak cucunya, supaya tidak membebani adzab dan siksa Allah di Akhirat kelak. Tetapi wariskanlah nilai-nilai yang baik untuk menambah besarnya pahala setelah dia meninggal dunia.

Allah mengingatkan kita dengan ayat “quu anfusakun wa ahlikum naara” peliharalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua muslim untuk mendidik anak-anaknya, sebagai aset dunia-akhirat dengan menghantarkan mereka berangkat dewasa dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawab.

———————–

Materi ini dikutip dari Majalah Risalah Mujahidin Edisi 30/ Th III, Muharam 1436 H/ November 2014 M

Komentar