Khutbah ‘Idul Fithri 1436 H: Darimana Kita Mulai Perbaikan Indonesia

Oleh Ustadz Irfan S. Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [آل عمران] . أَمَّا بَعْدُ؛

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Segala ungkapan puji dan syukur kita ditujukan hanya kepada Allah, Tuhan yang telah memberi hidayah Islam kepada kita. Sekiranya kita tidak mendapatkan hidayah dari Allah, niscaya kita akan tersesat. Shalawat dan Salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarganya, segenap para sahabatnya, dan kaum Muslimin yang taat kepada-Nya.

Selanjutnya, sebagai khatib pada kesempatan Idul Fitri 1436 H ini, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Peningkatan taqwa ini, marilah kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar kita menjadi manusia yang mulia dan terhormat, serta diampuni dosa-dosa kita sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Dengan begitu, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar.” (Qs. Al-Ahzaab [33]: 70-71)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan, dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, menyambut kabar gembira dan bahagia yang dijanjikan Allah dalam sebuah hadits Qudsi:

إِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا إِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ : يَا مَلاَئِكَتِى، كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ، فَيُنَادِي مُنَادٍ : يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، اِرْجِعُوْا إِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ ، فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِي صُمْتُمْ لِي وَأَفْطَرْتُمْ لِي فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ .

Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: ‘Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajikan dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka’. Seseorang kemudian berseru: ‘Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan’. Kemudian Allah pun berkata: ‘Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untuk-Ku dan berbuka untuk-Ku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 

Semoga kita semua yang telah menunaikan puasa ramadhan dan melaksanakan shalat Idul Fitri pada hari ini, mendapatkan ampunan Allah dan terbebas dari dosa. Dengan begitu kita dapat menjalani kehidupan di hari-hari mendatang sebagai hamba Allah yang shalih dan shalihah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Hari raya Idul Fitri 1436 H yang penuh barakah ini, merupakan hari kemenangan umat Islam melawan hawa nafsu. Pada hari ini kita bergembira, setelah sebelumnya kita mengeluarkan zakat fitrah, lalu berkumpul di tanah lapang untuk bertakbir, bertasbih, dan bertahmid, memuji dan membesarkan asma Allah Swt dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri. Kemudian kita bersilaturrahim sambil mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, dan saling memaafkan di antara sesama Muslim. Lalu kita saling beramah tamah meluapkan kegembiraan bersama keluarga. Anak-anak pun kita gembirakan dengan pakaian baru dan makanan lezat.

Namun, segala kegembiraan ini tidak boleh membuat kita terlena, sibuk mengurusi bungkus luar alias casing dan mengabaikan isi dalamnya. Ketahuilah, baju baru dan makanan enak hanya bungkusnya; halal, bergizi dan sehat itu isinya. Rumah megah dan kendaraan mewah hanya bungkus; amal kebajikan itu isinya. Ranjang indah dan kasur empuk hanya bungkus; tidur nyenyak itu isinya.

Kekayaan itu hanya bungkusnya; kedermawanan dan dan hati ikhlas itu isinya. Istri cantik dan suami tampan hanya bungkusnya; kepribadian dan keluarga sakinah itu isinya. Jabatan itu hanya bungkusnya; pengabdian dan pelayanan itu isinya. Kharisma hanya bungkusnya, ahlaqul karimah itu isinya. Hidup di dunia itu bungkusnya; nasib hidup sesudah mati itu isinya.

Maka beruntunglah mereka yang mengutamakan isi, dan merawat bungkusnya. Janganlah kita setengah mati mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati, sementara melupakan apa yang pasti terjadi di akhirat nanti.

Patutlah kita berbahagia, karena hingga saat ini kita dimudahkan oleh Allah untuk rukuk dan bersujud di hadapan-Nya. Namun, dalam momentum yang berbahagia ini, janganlah melupakan nasib saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya. Nestapa memilukan yang menimpa saudara Muslim di Rohingya jangan abaikan. Mereka kini terusir dari negeri sendiri, terlunta-lunta di negeri orang sebagai pengungsi akibat sentimen agama yang disulut api kebencian para biksu Budha ekstrem. Myanmar seolah menjadi negara primitif, karena mereka seperti tak mengenal adab dan peri kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan tanpa kompromi, rezim militer penyembah berhala Myanmar mencabut hak kewarganegraan kaum Muslim di sana. Alasannya, demi mempertahankan populasi mayoritas, agar tidak seperti Indonesia. Kata mereka, dulu di Indonesia terdapat mayoritas Hindu-Budha, tetapi setelah masuknya dakwah Islam berubah menjadi mayoritas Muslim. Para biksu ekstrem ini tidak mau hal yang sama terjadi di Myanmar. Inilah kebencian etnis dan agama yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Bukan salah Islam jika ada orang Hindu atau Budha beralih agama dan menjadi Muslim. Mengapa mereka tidak menyalahkan diri mereka sendiri, dan menanyakan mengapa teman-teman mereka beralih ke agama Islam?

Nestapa yang sama juga dialami saudara Muslim di negeri atheis China. Rezim komunis China melarang penduduk Muslim Xinjiang, China untuk mengikuti ibadah puasa bulan Ramadhan. Bahkan para mahasiswa dilarang berpartisipasi pada aktivitas keagamaan. Mereka tidak boleh membaca tulisan, puisi dan menyanyikan teks-teks agama; sekaligus dilarang mengenakan atribut agama. Tidak hanya itu, kaum Muslim dilarang mendakwahkan keyakinan agamanya. Rezim atheis Komunis ini berdalih, agama tidak boleh mencampuri urusan publik.

Begitulah sikap dan watak kaum komunis, benci terhadap agama dan umat beragama. Bandingkan dengan di Indonesia yang mayoritas Muslim. Tidak ada yang mengusik penganut Hindu dan Budha, mereka bebas menjalankan ibadah agamanya. Begitupun kaum komunis China, mereka bebas dengan budaya Barongsainya, bahkan bebas melakukan usaha ekonomi yang seringkali merugikan pribumi.

Pada 27 Mei 2015 lalu, di kampus Universitas Indonesia, Wakil Perdana Menteri China, Liu Yandong, menyatakan bahwa pada tahun 2020 nanti, China dan Indonesia akan melakukan pertukaran sebanyak 10 juta warga negara. Hal tersebut termasuk dalam mekanisme kerja sama yang hendak dibentuk oleh kedua pemimpin negara‎.

Pertukaran warga Cina dengan Cina perantauan (Cina diaspora) di Indonesia tersebut akan tersebar di sejumlah sektor yakni pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, media, pemuda, pariwisata, think tank, dan agama. Untuk kepentingan itu mereka telah mempersiapkan kader, melalui training pendidikan Marxisme-Leninisme dengan materi dasar berpedoman pada Das Kapital dan Manifesto Komunis.

Jika pemerintah Jokowi benar-benar merealisir rekayasa demografi ini, diperkirakan pada tahun 2020 dominasi etnis Cina akan menggeser penduduk pribumi. Nampaknya Cina meniru strategi Yahudi saat menyingkirkan rakyat pribumi Palestina, dan mengikuti strategi Singapura dalam menyingkirkan rakyat Melayu.

Kebangkitan komunis di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Ibarat kata, Negara Indonesia dalam bahaya karena adanya bahaya komunis di dalam Negara.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, 

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Rasulullah Saw menubuwahkan akan datangnya situasi dan kondisi yang sangat dilematis sekaligus merupakan tragedi kehidupan, dengan sabdanya:

سَيَأتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ ، وَيُؤتَمَنُ فِيهَا الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ . قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ : الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ العَامَّةِ.

“Akan datang kepada manusia masa-masa yang penuh dengan penipuan. Ketika itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dipercaya, amanat diberikan kepada pengkhianat, dan orang yang amanah dikhianati; dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Ya Rasulallah, apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan publik.” (Hr. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Situasi dan kondisi yang digambarkan dalam hadits di atas sungguh tragis. Di zaman ini, betapa banyak para pendusta justru dipercaya menjadi pejabat negara. Orang yang jujur disingkirkan, dan orang yang khianat malah diberi amanat.

Mempercayai para pendusta, mengkhianati orang yang amanah, adalah perbuatan yang tidak bermoral. Tetapi begitulah karakteristik era politik akal bulus. Seorang penguasa atau pejabat Negara, yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya, menggunakan semua tipu muslihat, mulai dengan harta, tahta dan wanita.

Tragisnya, dari kalangan pendusta dan pengkhianat ini muncul Ruwaibidhah, orang-orang bodoh yang tidak berkompeten mengurusi urusan rakyat, baik secara mental, intelektual maupun moral.

Misalnya, ada hakim yang memutuskan perkara di pengadilan sekaligus menjadi mafia kasus. Ada menteri membuat kebijakan yang meresahkan dan merugikan kepentingan rakyat. Sementara para gubernur, bupati, walikota banyak yang dipenjara karena kasus korupsi, bahkan terlibat perostitusi dan narkoba. Bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah kehancuran moral bangsa, sementara mereka sendiri secara moral bermasalah? Negara menjadi kacau, hukum diperjual belikan dan nasib rakyat ditelantarkan.

Apabila kepemimpinan politik diserahkan kepada mereka maka tunggulah saat kehancuran tiba. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, suatu negara akan binasa apabila orang-orang durhaka menjadi penguasa dan pejabat negara.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16)

“Jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada para pemimpin di negeri itu supaya menaati Allah, tetapi mereka berbuat zhalim kepada rakyat di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, maka turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-Israa’ [17]: 16)

Ketika pemimpin eksekutif, legislatif, dan yudikatif dijabat oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas dan tidak mengindahkan agama, tidak terikat dengan hukum Allah dan Sunah Rasulullah, maka dia sulit membedakan yang benar dan salah. Tidak akan bisa membedakan manakah petunjuk Allah dan rayuan setan, tidak akan bisa membedakan ‘yang ini’ maslahat dan ‘yang itu’ muslihat.

Fenomena Ruwaibidhah tidak hanya muncul di panggung politik kekuasaan. Tapi juga mengacau melalui propaganda ideologi dan pemikiran.

Akhir-akhir ini, setelah umat Islam dipojokkan dengan stigma terorisme; muncul lagi aksi teror atas nama Daulah Islamiyah alias ISIS. Dengan berlindung di balik nama Daulah Islamiyah, mereka mengafirkan bahkan membunuh siapa saja yang tidak bergabung dengan kelompoknya. Umat Islam dipermalukan di pentas internasional karena prilaku buas dan kejam, yang tidak kalah biadabnya dengan musuh-musuh Islam.

Belum usai dengan problem ISIS, umat Islam diguncang lagi dengan propaganda Syiah yang menghina istri Nabi Saw dan menista para sahabat beliau dengan dalih membela dan mencintai ahlul bait. Mereka juga menjerumuskan generasi muda ke arah pergaulan bebas dan zina dengan dalih kawin mut’ah. Siapa saja yang menentang kesesatan Syiah dituduh sebagai pengikut Wahabi. Jika tidak waspada, bukan mustahil umat Islam dapat diadu domba.

Dan kini umat Islam disibukkan lagi dengan wacana Islam Nusantara berbasis budaya, yang katanya berbeda dengan Islam Arab. Para propagandis wacana ini mengatakan, prinsip Islam Nusantara ada tiga: Teologinya mengikuti Asy’ari, fiqhnya Imam Syafii, dan tasawufnya Imam Ghazali.

Tapi para pengusung Islam Nusantara ini, tidak konsisten. Mereka menggunakan metode berfikir talfiq, yaitu mengambil yang dia suka dan membuang yang dia tidak suka sekalipun itu benar.

Inkonsistensi itu terlihat dalam pengambilan tokoh rujukan. Mereka menolak ‘Islam Arab’ tapi mengklaim tokoh rujukannya ulama dari Arab. Akan lebih munasabah apabila teologi Islam Nusantara disebut teologi permusuhan anti Arab. Sedang fiqhnya mengikuti pemahaman Darmogandul dan Gatoloco, dan tasawufnya manunggaling kawula gusti ala Syeh Siti Jenar, tokoh klenik yang dieksekusi mati oleh Wali Songo.

Umat Islam tidak boleh terjebak, apakah namanya Islam Nusantara, Islam Nusa Dua, ataukah Islam Nusa Kambangan. Sebab tujuan Islam bukan membangun Islam Nusantara, melainkan membangun Nusantara yang Islami. Bukan merekonstruksi Islam Indonesia, tapi Indonesia yang Islami.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Menyaksikan kondisi Indonesia hari ini, muncul pertanyaan, jika hendak memperbaiki Indonesia darimana-kah kita harus memulainya?

Setelah sistem demokrasi gagal memperbaiki Indonesia, pemerintah mencoba melibatkan Islam dalam upaya perbaikan ini, sehingga sejumlah nilai-nilai Islam masuk ke dalam aturan dan UU RI. Akan tetapi pemerintah masih setengah hati.

Ibarat ungkapan: “Manusia itu punya tubuh dan anggota badan. Bila dilepaskan dari tubuh bisakah tangannya berfungsi? Begitulah, Islam bila diambil sebagian dari ajarannya dan ditinggalkan sebagian lainnya. Maka, sebagimana tangan tidak akan berfungsi bila dilepaskan dari tubuh.

Jika demikian, barangkali perbaikan bisa dimulai dengan perubahan kepemimpinan? Indonesia pernah bereksperimen dengan berbagai tipe pemimpin. Indonesia pernah dipimpin oleh seorang politisi pejuang revolusi, dialah Bung Karno. Pernah juga dipimpin seorang jenderal TNI bintang lima, dialah Soeharto. Pernah dipimpin seorang profesor ber-IQ tinggi, dialah BJ Habibie.

Indonesia juga pernah dipimpin seorang kharismatik bergelar Kyai Haji Abdurrahman Wahid. Pernah juga dipimpin seorang perempuan penuh misteri, Megawati Soekarnoputri. Dan pernah pula dipimpin seorang purnawirawan yang pintar bernyanyi, Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kini, Indonesia dipimpin seorang rakyat biasa buah nyata demokrasi, Joko Widodo.

Tapi mengapa Indonesia terus saja begini. Indonesia yang pulau-pulaunya dijual kepada orang asing, mata uangnya terus melemah, anak-anak negeri ini dirusak moral dan harga dirinya. Negeri dimana barang palsu jadi modal bisnis: beras palsu, daging palsu, ijazah palsu, uang palsu, jabatan palsu, janji palsu dan palsu-palsuan lainnya.

Di negeri kita ini, telah terjadi kerusakan yang sangat serius: kemiskinan yang kronis, dekadensi moral, korupsi, narkoba, gratifikasi seks, prostitusi online, penipuan, juga penindasan dan kezaliman. Padahal institusi negara ada, pemerintah masih berkuasa, tapi belum mampu merubah apalagi memperbaiki nasib rakyat sesuai cita-cita kemerdekaan.

Menyaksikan fenomena yang serba palsu inilah, maka muncul fatwa MUI terkait pemimpin yang suka janji palsu. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang hukum “berdosa bagi pemimpin yang tidak menepati janjinya saat kampanye.”

Menurut kesepakatan ulama MUI dalam acara ijtima Komisi Fatwa MUI V di Tegal, 7-10 Juni 2015, fatwa ini berlaku bagi pemimpin dan calon pemimpin publik, baik itu di legislatif, yudikatif maupun eksekutif, agar tidak mengumbar janji untuk melakukan perbuatan di luar kewenangannya. Dan juga tidak berjanji untuk melaksanakan kebijakan yang bertentangan dengan syariah Islam.

Terhadap pemimpin yang ingkar janji, MUI menghimbau rakyat Indonesia untuk tidak memilihnya kembali, manakala yang bersangkutan mencalonkan diri pada pemilihan umum periode selanjutnya.

Oleh karena itu, mari kita dorong para pemimpin dan penguasa negeri ini, untuk tekun mempelajari Islam dan syari’ahnya yang suci, agar bisa menerapkannya secara menyeluruh dan hakiki. Lalu menyebarkannya dengan benar dan sabar ke seluruh penjuru bumi. Indonesia membutuhkan pemimpin seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (73)

“Kami jadikan masing-masing mereka sebagai pemimpin yang memberikan petunjuk kepada manusia dengan izin Kami. Kami perintahkan kepada mereka untuk melakukan amal-amal shalih, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Mereka semua senantiasa taat kepada Allah.” (Qs. Al-Anbiyaa [21]: 73)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Dalam segala situasi, Islam merupakan solusi Ilahiyah, yang telah terbukti dalam sejarah, berhasil mengangkat harkat dan martabat manusia. Karena itu umat Islam hendaknya senantiasa istiqamah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Umat Islam wajib menjaga dan mempertahankan keimanan kepada Allah, sehingga tidak pudar dan menghilang ditelan gelombang aliran sesat dan ideologi Komunis?

Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. memberi nasehat pada kaum Muslimin:

إِنَّ مِنْ نَعِيمِ الدُّنْياَ يَكْفِيْكَ اْلإِسْلاَمُ نِعْمَةً ، وَ إِنَّ مِنَ الشُّغْلِ يَكْفِيْكَ الطَّاعَةُ شُغْلاً ، وَ إِنَّ مِنَ الْعِبْرَةِ يَكْفِيْكَ الْمَوْتُ عِبْرَةً .

“Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu, dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu, dan dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.” (Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad).

Manakala kita meyakini Islam sebagai nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita, seharusnya kita antusias untuk menjalani kehidupan ini sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tidak mungkin kita akan merasakan indahnya Islam dan bahagianya menjadi seorang Muslim tanpa mengamalkan syariat Islam.

Seperti dikatakan oleh khalifah Umar bin Khatthab ra:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرَ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ .

“Dulu kita adalah kaum yang terhina, kemudian Islam datang memuliakan kita. Jika sekarang kita mencari kemuliaan dengan selain Islam niscaya Allah akan menghinakan kita kembali. (H.r. Al-Hakim dan Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib)

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya harus menjadi kesibukan utama kaum Muslimin. Janganlah kita disibukkan oleh opini sesat dan menyesatkan, yang akan menggiring umat Islam semakin jauh dari Islam.

Kemudian khalifah Ali bin Abi Thalib menyeru supaya kita mengambil pelajaran dari al-maut (kematian). Mati merupakan suatu yang pasti terjadi tetapi tetap misteri. Ia datang tidak diundang dan perginya pun tanpa pamitan.

Maka jangan lalai akan datangnya kematian, karena merasa jadi orang kaya. Sebab kematian tidak hanya datang pada orang miskin. Jangan lalai dengan kematian karena merasa masih muda, sebab kematian tidak hanya datang pada orang tua renta. Jangan lalai datangnya kematian karena merasa masih sehat, sebab kematian tidak hanya datang pada orang sakit. Jangan lalai dari kematian karena merasa pintar, sebab maut tidak hanya merenggut nyawa orang bodoh. Jangan lalai akan datangnya kematian karena merasa jadi pejabat negara, sebab malaikat maut tidak hanya datang mencabut nyawa rakyat jelata.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ… (78)

“Wahai manusia, di mana pun kalian berada, maut akan mengejar kalian. Sekalipun kalian berada dalam benteng-benteng yang kokoh….” (Qs. An-Nisa’ [4]: 78)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57)

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kalian semua kelak akan dihidupkan kembali untuk berkumpul di hadapan Kami.” (Qs. Al-Ankabut [29]: 57)

Oleh karena itu, hendaklah setiap orang menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya, dengan menaati Allah Swt. dalam segala urusan. Maka orang yang punya kelebihan tak perlu sombong, dan yang memiliki kekurangan tak harus minder. Ketahuilah, yang sombong maupun yang minder, tempat peristirahatan terakhirnya sama, yaitu di kuburan.

Munajat

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita bermunajat kepada Allah agar diberi keselamatan dari segala ancaman, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera dan waktu yang paling bahagia. Marilah kita berdo’a dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran, semoga Allah memperkenankan do’a hamba-Nya yang ikhlas, dan menerima ibadah puasa Ramadhan kita.

Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh Sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, yang mengantarkan kami menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Ya Allah bimbinglah kami untuk mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu kami. Peliharakan hati dan pendengaran kami agar kami tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ . اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى مِنَ اليَهُودِ الغَاصِبِينَ ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي بِلاَدِ الشَّامِ ، وفِي الأَرَكَانِ ، وَفي الْيَمَنِ ، وفِي أَفْغَانِسْتَان ، وَفِي كَشْمِيْرَ ، فِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Ya Allah, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami para mujahidin Palestina, bebaskan Masjid Aqsha dari perampok Yahudi. Ya Allah, bantulah pula saudara-saudara kami kaum Muslimin para mujahidin di negeri Syam, di Arakan, Yaman, Afghanistan, Kasymir dan negeri-negeri kaum Muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

Ya Allah, berikan kesabaran kepada mereka, teguhkan pendirian mereka, dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka

اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ

Ya Allah, tetapkan kesyahidan bagi yang gugur di antara mereka, dan berikan keselamatan kepada yang masih hidup

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, dan kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam. []

—————————————-

DOWNLOAD
KHUTBAH ‘IDUL FITHRI 1436 H

Komentar